Serba-Serbi Singkat Namun Lengkap tentang Hari Raya Waisak

Selamat Hari Raya Waisak

0
820
views

Ciptaloka.com – Setiap satu tahun sekali, di Indonesia tepatnya pada sekitaran bulan April-Juni akan dirayakan Hari Raya Waisak.

Hari besar bagi umat Buddha di negara kita itu, pun termasuk ke dalam salah satu hari libur nasional.

Nah, sebagai sesama orang Indonesia, Kamu jangan cuma menikmati liburnya saja. Tapi kamu juga harus tahu apa hari waisak itu? Bagaimana makna dan perayaannya?

Sebagai tambahan informasi, Ciptaloka siapkan:

Serba-Serbi Singkat namun Lengkap tentang Hari Raya Waisak

Selamat merayakan Waisak ke 2562 BE/2018

Asal Usul Kata Waisak

Gambar dari www.hipwee.com

Istilah Waisak pastinya tidak asing di telingan orang Indonesia. Kendati begitu, apakah kamu tahu dari mana kata itu berasal?

Ternyata. Terminologi “Wisak” berasal dari bahasa Pali yang awalnya tertulis “Vesakha”. Dalam kamus bahasa Sansekerta, “Vesakha” memiliki sebutan lain yakni “Vaisakha.”

Semua istilah tersebut menjurus pada sebuah arti nama bulan dan hari suci umat Buddha dalam kalender Buddhis, yang mana bila dikonversi ke kalender masehi biasanya jatuh di Bulan Mei. Bisa juga April atau Juni.

Sebutan Waisak di 3 Negara Asia

Gambar dari Tempo.co.id

Nah, kalau di Indonesia udah clear kan kalau hari suci bagi umat Buddha itu adalah Hari Raya Waisak. Namun di negara lain ternyata memiliki sebutan yang berbeda lho. Contohnya di 4 negara asia ini:

Di India, hari besar bagi umat Buddha ini disebut dengan Visakah Puja.

Sementara di Thailand, disebut dengan Visakha Bucha.

Kalau di Jepang dikenal dengan nama Hanamatsuri.

Nah terakhir di Korea Selatan, disebut sebagai Seokka Tanshin-Ill.

Waisak sebagai Pengingat 3 Peritiwa Penting untuk Umat Buddha

Gambar dari Blogspot.com

Hari Raya Waisak yang suci, dirayakan guna memperingati 3 peristiwa bersejarah bagi umat Buddha ini. Berikut diantarnya kami kutip dari buddha.id.

– Lahirnya Pangeran Sidharta

Pangeran Sidharta lahir pada tahun 623 Sebelum Masehi. Beliau merupakan putra dari pasangan Raja dan Ratu, yakni Raja Sudodhana dan Ratu Mahamaya. Manakala Pangeran Sidharta lahir ke dunia, beliau merupakan seorang Bodhisatva atau Calon Buddha (calon seseorang) yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi.

– Mencapai Penerangan Sempurna

Di usia yang menginjak angka 29 tahun, Pangeran Sidharta pergi meninggalkan anak, istri, dan istananya guna menuju sebuah hutan. Beliau hendak mencari kebebasan dari 4 persitiwa yaitu Lahir, Tua, Sakit, dan Mati. Barulah pada usia 35 tahun, saat punama Sidhi berada di puncak bulan Waisak, sang petapa Sidharta mencapai penerangan sempurna. (Sang Buddha)

Parinibbana

Dalam kurun waktu 45 tahun, sang Buddha pergi menyebarkan Dhamma. Lalu mencapai usia 80 tahun beliau wafat atau parinibbana di Kusinara. Semua makhluk juga para dewa bersujud pada beliau guna memberikan penghormatan terakhir untuk sang Buddha.

Demikianlah 3 peristiwa penting yang menjadi sejarah Hari Raya Waisak sebagai hari suci bagi umat Buddha.

Prosesi Waisak di Indonesia

Gambar dari Tempo.co.id

Dalam memperingati 3 peristiwa penting di Hari Raya Waisak tadi, di Indonesia sendiri prosesi perayaannya secara garis besar akan meliputi:

– Pengambilan Air Berkat yang berada di Kabupaten Temanngung. Air yang dibawa pun langsung dari mata air Jumprit. Diikuti dengan penyalaan obor yang berasal dari sumber api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan.

– Ritual Pindapatta yang intinya berbagi makanan kepada para Bikkhu dan Bikshu. Hal itu dimaksudkan agar para umat Buddha dapat berbuat kebajikan.

– Samadhi (meditasi) yang dilaksanakan pada detik-detik menjelang puncak bulan purnama.

Jika prosesi tersebut sudah terlaksana seluruhnya, maka bisa dibilang tujuan hari raya waisak pun telah tercapai.

Waisak dan Candi Borobudur

Gambar dari industry.co.id

Kalau kamu sudah tahu inti prosesinya, tentu penasaran kan di mana biasanya upacara penting tersebut dihelat?

Yap, peristiwa sakral itu dilakukan di Candi Borobodur. Mengingat tempat suci bagi para umat Buddha itu merupakan pusat perayaan waisak di Indonesia.

Jangan heran pula bila menjelang Waisak, para wisatawan pun turut hanyut dalam suasana sakral di Candi Borbudur.

Hari Raya Waisak, antara Hari Libur dan Tidak Libur

Gambar dari CNNINDONESIA

Pada tanggal 19 Januari 1983, Hari Raya Waisak telah ditetapkan menjadi Hari Libur Nasional bagi masyarakat di Indonesia. Hal itu merujuk pada Keppres Nomor 3 Tahun 1983.

Sementara, di negara tentanga, yaitu Singapura. Perayaan Hari Raya Waisak tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional. Adapun hari libur waisak pernah terjadi di negara tersebut ketika tahun 1955, karena dukungan petisi dari banyaknya masyarakat.

Waisak dalam Balutan Cahaya Lampion

Gambar dari Kompas.com

Seperti telah menjadi sebuah tradisi, manakala seluruh prosesi upacara Waisak telah dilaksanakan di Candi Borobudur, akan ada momen penerbangan lampion yang sangat banyak.

Jumlah keseluruhan bila dihitung ke dalam angka, ada sekitar 1000 lampion lebih.

Momen itu pun menjadi yang paling ditunggu oleh para wisatawan serta umat Buddha yang merayakannya.

Tentu kamu pun membayangkan betapa indahnya balutan cahaya lampion di Malam Waisak tersebut ‘kan?

Demikianlah serba-serbi singkat namun lengkap seputar waisak. Sekarang kamu tahu kan? Yuk bagikan 😀

BACA JUGA: 

1. Serba-Serbi Imlek yang Wajib Kamu Tahu Sebagai Orang Indonesia

2. Rekomendasi 12 Kegiatan Ngabuburit Berfaedah, Mulai dari yang Umum sampai dengan Ngabuburit Online

3. Cerita yang Tidak Kamu Tahu Tentang Pohon Natal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here